Blog ini akan memberikan kita kesehatan jasmani maupun dari rohani, yang akan memperkuat semua itu, maka blog ini akan mencoba memasukkan pengetahuan tentang pengobatan dan sejarah tentang Islam.
Jumat, 10 Juni 2011
NERAKA JAHANNAM
Nama-nama pintu tersebut adalah:
1. Neraka Jahannam (QS 15:43)
Disediakan untuk para pengikut dan pemuja Setan.
2. Neraka Sa’ir (QS 84:12-13)
Disediakan untuk orang-orang kafir yang tidak percaya akan Akherat, juga untuk orang yang tak pandai bersyukur.
3. Neraka Shaqor (QS 74:42-47)
Disediakan untuk orang yang tidak melaksanakan sholat, tidak mau memberi makan orang miskin, tukang gosip, dll.
4. Neraka Jahim (QS 26:91)
Disediakan untuk mereka yang menyembah berhala, thagut (harta dan tahta), juga untuk orang yang sesat.
5. Neraka Huthomah (QS 104:1-9)
Disediakan untuk para pengumpat & pencela.
6. Neraka Ladho (QS 70:15-18)
Disediakan untuk orang yang tidak beragama, dan yang gemar menyimpan harta (kikir).
7. Neraka Hawiyah (QS 101:1-11)
Disediakan untuk orang yang ringan amal kebaikannya, sebagaimana Jibril menjawab kepada Rasul: “Pintu ini untuk umatmu yang angkuh, dan ketika mati tanpa sempat menyesali dosa-dosa mereka..”
Dikisahkan dalam hadis tersebut bahawa pada setiap lembah itu terdapat 70,000 gudang dari api, dan pada setiap gudang itu pula terdapat 70,000 kamar dari api, pada setiap kamar itu pula terdapat 70,000 ular dan 70,000 kala, dan dikisahkan dalam hadis tersebut bahawa setiap kala itu mempunyai 70,000 ekor dan setiap ekor pula memiliki 70,000 ruas. Pada setiap ruas kala tersebut ianya mempunyai 70,000 qullah bisa.
Dalam hadis yang sama menerangkan bahawa pada hari kiamat nanti akan dibuka penutup neraka Jahannam, maka sebaik sahaja pintu neraka Jahannam itu terbuka, akan keluarlah asap datang mengepung mereka di sebelah kiri, lalu datang pula sebuah kumpulan asap mengepung mereka disebelah hadapan muka mereka, serta datang kumpulan asap mengepung di atas kepala dan di belakang mereka. Dan mereka (Jin dan Mausia) apabila terpandang akan asap tersebut maka bergetarlah dan mereka berlutut dan memanggil-manggil, "Ya Tuhan kami, selamatkanlah."
Diriwayatkan bahawa sesungguhnya Rasulullah S.A.W telah bersabda : "Akan didatangkan pada hari kiamat itu neraka Jahannam, dan neraka Jahannam itu mempunyai 70,000 kendali, dan pada setiap kendali itu ditarik oleh 70,000 malaikat, dan berkenaan dengan malaikat penjaga neraka itu besarnya ada diterangkan oleh Allah S.W.T dalam surah At-Tahrim ayat 6 yang bermaksud : "Sedang penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras."
Setiap malaikat apa yang ada di antara pundaknya adalah jarak perjalanan setahun, dan setiap satu dari mereka itu mempunyai kekuatan yang mana kalau dia memukul gunung dengan pemukul yang ada padanya, maka nescaya akan hancur lebur gunung tersebut. Dan dengan sekali pukulan sahaja ia akan membenamkan 70,000 ke dalam neraka Jahannam.
Read More...
Nabi Idris AS Melihat Surga dan Neraka
Setiap hari Malaikat Izrael dan Nabi Idris beribadah bersama. Suatu kali, sekali lagi Nabi Idris mengajukan permintaan. “Bisakah engkau membawa saya melihat surga dan neraka?”
“Wahai Nabi Allah, lagi-lagi permintaanmu aneh,” kata Izrael.
Setelah Malaikat Izrael memohon izin kepada Allah, dibawanya Nabi Idris ke tempat yang ingin dilihatnya.
“Ya Nabi Allah, mengapa ingin melihat neraka? Bahkan para Malaikat pun takut melihatnya,” kata Izrael.
“Terus terang, saya takut sekali kepada Azab Allah itu. Tapi mudah-mudahan, iman saya menjadi tebal setelah melihatnya,” Nabi Idris menjelaskan alasannya.
Waktu mereka sampai ke dekat neraka, Nabi Idris langsung pingsan. Penjaga neraka adalah Malaikat yang sangat menakutkan. Ia menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah semasa hidupnya. Nabi Idris tidak sanggup menyaksikan berbagai siksaan yang mengerikan itu. Api neraka berkobar dahsyat, bunyinya bergemuruh menakutkan, tak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibanding tempat ini.
Dengan tubuh lemas Nabi Idris meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Kemudian Izrael membawa Nabi Idris ke surga. “Assalamu’alaikum…” kata Izrael kepada Malaikat Ridwan, Malaikat penjaga pintu surga yang sangat tampan.
Wajah Malaikat Ridwan selalu berseri-seri di hiasi senyum ramah. Siapapun akan senang memandangnya. Sikapnya amat sopan, dengan lemah lembut ia mempersilahkan para penghuni surga untuk memasuki tempat yang mulia itu.
Waktu melihat isi surga, Nabi Idris kembali nyaris pingsan karena terpesona. Semua yang ada di dalamnya begitu indah dan menakjubkan. Nabi Idris terpukau tanpa bisa berkata-kata melihat pemandangan sangat indah di depannya. “Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah…” ucap Nabi Idris beulang-ulang.
Nabi Idris melihat sungai-sungai yang airnya bening seperti kaca. Di pinggir sungai terdapat pohon-pohon yang batangnya terbuat dari emas dan perak. Ada juga istana-istana pualam bagi penghuni surga. Pohon buah-buahan ada disetiap penjuru. Buahnya segar, ranum dan harum.
Waktu berkeliling di sana, Nabi Idris diiringi pelayan surga. Mereka adalah para bidadari yang cantik jelita dan anak-anak muda yang amat tampan wajahnya. Mereka bertingkah laku dan berbicara dengan sopan.
Mendadak Nabi Idris ingin minum air sungai surga. “Bolehkah saya meminumnya? Airnya kelihatan sejuk dan segar sekali.”
“Silahkan minum, inilah minuman untuk penghuni surga.” Jawab Izrael. Pelayan surga datang membawakan gelas minuman berupa piala yang terbuat dari emas dan perak. Nabi Idris pun minum air itu dengan nikmat. Dia amat bersyukur bisa menikmati air minum yang begitu segar dan luar biasa enak. Tak pernah terbayangkan olehnya ada minuman selezat itu. “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah,” Nabi Idris mengucap syukur berulang-ulang.
Setelah puas melihat surga, tibalah waktunya pergi bagi Nabi Idris untuk kembali ke bumi. Tapi ia tidak mau kembali ke bumi. Hatinya sudah terpikat keindahan dan kenikmatan surga Allah.
“Saya tidak mau keluar dari surga ini, saya ingin beribadah kepada Allah sampai hari kiamat nanti,” kata Nabi Idris.
“Tuan boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti, setelah semua amal ibadah di hisab oleh Allah, baru tuan bisa menghuni surga bersama para Nabi dan orang yang beriman lainnya,” kata Izrael.
“Tapi Allah itu Maha Pengasih, terutama kepada Nabi-Nya. Akhirnya Allah mengkaruniakan sebuah tempat yang mulia di langit, dan Nabi Idris menjadi satu-satunya Nabi yang menghuni surga tanpa mengalami kematian. Waktu diangkat ke tempat itu, Nabi Isris berusia 82 tahun.
Firman Allah:
| Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. |
| Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh. |
“Dan ceritakanlah Idris di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi, dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Al-Anbiya:85-86).
***
Pada saat Nabi Muhammad sedang melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj ke langit, beliau bertemu Nabi Idris. “Siapa orang ini? Tanya Nabi Muhammad kepada Jibril yang mendampinginya waktu itu. “Inilah Idris,” jawab Jibril. Nabi Muhammad mendapat penjelasan Allah tentang Idris dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 85 dan 86, serta Surat Maryam ayat 56 dan 57. Read More...
Selasa, 07 Juni 2011
Pengorbanan Suci
Ada seorang pemuda yang merasa sangat kelelahan ketika sedang menempuh perjalanan jauh. Ia lalu memutuskan untuk berisitirahat di sebuah perkampungan dan membiarkan kuda tunnggangannya mencari makan di sekitar tempat itu. Karena rasa lelah yang tiak tertahankan, pemuda itu tertidur di bawah sebatang pohon Sementara itu, kudanya yang kelaparan bergerak menuju ladang dan memakan tanaman yang tumbuh di sana. Tidak beberapa lama kemudian, sang pemilik ladang datang. Menyaksikan tanamannya rusak dan habis dimakan oleh kuda itu, si pemilik ladang menjadi sangat marah. Tak dapat dihindarkan lagi, ia kemudian membunuh kuda tersebut.
Pada saat si pemuda bangun dari tidurnya, ia kaget mengetahui kudanya menghilang. Ia berusaha mencari ke sana kemari, tapi kuda itu tak juga ditemukannya. Tiba-tiba, ia melihat dari kejauhan seekor kuda yang tergeletak di sebuah ladang. Setelah didekati. ternyata kuda itu adalah miliknya, namun sudah dalam kondisi sudah tak bernyawa. Melihat hal tersebut, si pemuda menjadi marah dan mencari pembunuh kudannya itu. Ia arahkan langkahnya ke sebuah rumah yang tidak begitu jauh dari tempat itu. Ia yakin bahwa pemilik rumah itulah yang telah membunuh kudanya.
Setelah bertemu dengan si pemilik rumah, yang tak lain adalah si pemilik ladang, pemuda itu tak mampu lagi mengendalikan amarahnya. Perkelahian pun tak bisa dihindarkan, dan akhirnya si pemilik ladang terbunuh. Peristiwa tersebut diketahui oleh orang banyak. Pemuda itu kemudian ditangkap dan dibawa menghadap kepada khalifah untuk diadili. Menurut hukum kisas, apabila seseorang membunuh, maka balasannya adalah ia juga harus dibunuh. Khalifah memerintahkan supaya si pemuda dipenjara terlebih dahulu selama sehari semalam sebelum di pancung. Pemuda itu memohon agar ia diperkenankan untuk pulang menemui ibunya, karena ada hal penting yang harus ia selesaikan.
Permohonan itu ternyata tidak diperkenankan oleh Khalifah. Namun, pemuda itu tidak putus asa. Ia terus saja memohon sambil menyatakan bahwa ia mempunya tanggung jawab yang harus diselesaikan sebelum ia dihukum mati. Ia berjanji akan segera kembali setelah urusannya selesai. Khalifah meminta pendapat kepada ahli waris si pemilik ladang yang terbunuh. Ternyata, mereka tidak mengizinkan pemuda itu pergi, karena khawatir ia tidak akan kembali lagi untuk menjalani hukuman mati.
Berulang kali si pemuda berharap dan bersumpah bahwa ia akan datang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sayangnya, tiada seorang pun yang menunjukan tanda simpati. Akhirnya, tampillah seorang tua menghadap khalifah. Ia menyatakan kesanggupannya untuk menjadi tebusan bila sang pemuda tidak menepati janjinya. Ia berharap supaya si pemuda diizinkan pulang ke rumahnya. Orang tua itu tiada lain adalah Abu Dzar, salah seorang sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadis.
Melihat kenyataan itu, semua yang hadir terpana. Bahkan, ada di antara mereka yang merah terhadap Abu Dzar karena tindakannya dapat membahayakan dirinya sendiri. Abu Dzar berjanji untuk menjadi jaminan atas pemuda tersebut dan menyuruh si pemuda pulang guna menyelesaikan masalahnya. Melihat kejadian ini, sang pemuda menjadi tenang. Ia kembali berjanji bahwa akan datang untuk menerima hukuman pancung setelah urusannya selesai. Abu Dzar mengerti, apabila pemuda itu mengingkari janjinya, maka nyawanyalah yang akan melayang.
Abu Dzar ditanya oleh Khalifah mengenai alasan kesanggupannya melibatkan diri dalam perkara yang sangat membahayakan diri. Abu Dzar menjelaskan bahwa hal itu ia lakukan demi kemuliaan Islam. Ia merasa sangat malu ketika melihat tiada seorang pun yang sanggup mengulurkan bantuan tatkala pemuda asing itu berada dalam keadaan yang sangat menyulitkan.
Lalu, pemuda itu diizinkan pulang ke rumahnya, sementara Abu Dzar dikurung di dalam penjara. Keesokkan harinya, orang-orang berbondong-bondong menuju istana Khalifah unuk menyaksikan episode yang sangat mencemaskan. Banyak orang mengira bahwa Abu Dzar akan menjadi tumbal. Sebab, kemungkinan besar pemuda itu tidak akan datang menyerahkan lehernya untuk dipancung. Saat-saat yang mendebarkan mulai tiba. Waktu pemancungan yang telah ditentukan akan berlangsung beberapa menit lagi. Namun, pemuda itu belum juga menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Abu Dzar mulai dikeluarkan dari penjara. Bila pemuda itu benar-benar tidak datang, maka Abu Dzar sudah pasti menjadi korban.
Pada detik-detik terakhir yang paling mendebarkan, tampak dari kejauhan seorang laki-laki menunggang seekor kuda dengan sangat kencang menuju lapangan tempat hukuman pancung dilaksanakan. Ternyata, pemuda itu benar-benar menepati janjinya. Ia kemudian turun dari kudanya dan datang menghadap Khalifah.
"Maafkan aku, wahai Khalifah. Sesungguhnya aku telah berusaha untuk datang lebih awal. Namin ditengan perjalanan, tali kuda yang kutunggangi ini putus, sehingga aku harus menyambungnya terlebih dahulu," kata pemuda itu dihadapan Khalifah.
Ia kemudian melanjutkan perkataannya, "Perlua Khalifah ketahui, kemarin aku memohon izin untuk bisa pulang menemui ibuku, karena ada urusan sangat penting yang menjadi tanggung jawabku. Aku adalah seorang penjaga harta anak-anak yatim. Tanggung jawab yang sangat berat itu tidak bisa kutinggalkan begitu saja sebelum kuserahkan kepada ibuku. Nah, sekarang tanggung jawab itu telah berada di tangan ibuku. Silakan aku dihukum pancung!"
Setelah mencertiakan semuanya di hadapan Khalifah, pemuda itu menemui Abu Dzar untuk mengucapkan terimakasih atas kesediaan dirinya menjadi jaminan. Kemudian si pemuda berjalan ke tempat pemancungan. Ketika algojo hendak mengayunkan pedangnya, tiba-tiba anak dari si pemilik ladang yang terbunuh itu berteriak dengan suara lantang, meminta agar hukuman itu dibatalkan. Dengan keikhlasan hati, ia memaafkan kesalahan sang pemuda. Mendengar kata-kata dari anak pemilik ladang tersebut. si pemuda merasa sangat bahagia dan terus bersujud sebagai tanda Syukur kepada Allah SWT.
Hikmah
Adakah saat ini ulama seperti Abu Dzar yang bersedia menjadi jaminan bagi orang yang terhukum mati ? Adakah kini ulama sepertu Abu Dzar yang bersedia menjadi jaminan bagi orang yang sama sekali tak dikenalnya ? Adakah seorang terhukum mati yang setelah diberi kesempatan bebas lalu kembali dengan penuh tanggung jawab untuk menyerahkan nyawanya ? Adakah saat ini orang yang dijatuhi hukuman mati, sementara ia masih menanggung amanah, kemudian sebalum hukuman itu dilaksanakan, ia bersedua untuk menunaikan amanahnya terlebih dahulu ? Adakah saat ini seorang anak yang ayahnya telah dibunuh oleh seseorang, kemudian dengan penuh keikhlasan memaafkan si pembunuh ?Rasanya sangat sulit untuk mengatakan "ada". Hanya ada sedikit orang yang mampu melihat manusia dari sisi kemanusiannya. Inilah yang dilihat oleh Abu Dzar pada diri si terhukum dalam kisah ini. Posisi sulit yang dialami si terhukum ternyata tidak dapat menggugah hati kebanyakan ornag yang melihatnya. Kesungguhan si terhukum untuk menyelesaikannya. Tidak demikian dengan Abu Dzar. Saat itu, ia melihat kesulitan si terhukum sebagai manusia biasa, yang di satu sisi harus segera dihukum dan di sisi lain masih memiliki amanah yang harus diselesaikannya. Kesungguhan dan kejujuran si terhukum terlihat oleh kejernihan hati Abu Dzar, sehingga ia bersedia menjadikan dirinya sebagai jaminan. Demikian pula dengan si terhukum. Meskupun ia diberi waktu yang memungkinkannya untuk dapat melarikan diri, ia tetap kembali untuk menyerahkan diri demi menunaikan tanggung jawabnya yang besar. Sementara itu , si anak yang ayahnya bertanggung jawab dalam diri si terhukum. Kemudian jiwa si terhukum begitu tampak di mata anak si korban, sehingga ia kemudian memaafkannya. Semua ini terjadi, karena Abu Dzar dan anak si korban dalam kisah ini memiliki kebeningan kalbu, sehingga mereka dapat menyaksikan kemuliaan jiwa si terhukum, yang tak dapat disaksikan oleh orang banyak.
Senin, 30 Mei 2011
Khalifah Umar Mengalami Gangguan Jiwa
Tersiar kabar bahwa Khalifah Umar bin Khattab r.a. mengalami gangguan jiwa. Banyak orang yang telah menyaksikannya dengan mata kepala mereka sendiri. Dugaan yang muncul bahwa barangkali hal itu dikarenakan masa muda Umar dipenuhi dengan maksiat, seperti mabuk-mabukan, atau bahkan membunuh orang tanpa rasa kemanusiaan. Mungkin, keadaan itu telah menyiksan batin Umar, sehingga ia mengalami gangguan jiwa.
Memang, Umar sering menangis sendirian seusai menunaikan salat. Tetapi tiba-tiba, ia tertawa terbahak-bahak. Padahal, waktu itu tidak ada orang lain yang membuatnya tertawa. Bukankah itu pertanda bahwa Umar mengalami gangguan jiwa? Demikianlah dugaan-dugaan yang muncul di tengah masyarakat.
Abdurrahman bin Auf, sebagai sahabat Umar yang paling akrab, merasa tersinggung dan sangat sedih mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampir semua penduduk Madinah sepakat menganggap bahwa Umar betul-betul sakit jiwa. Konsekuensinya, tentu saja, ornag yang sakit jiwa tidak layak menjadi pemimpin umat atau negara.
Yang lebih mengejutkan orang banyak pada saat itu adalah peristiwa yang terjadi ketika pelaksanaan salat Jumat. Ketika itu, Umar bin Khattab sedang membacakan khotbah diatas mimbar. Di tengah-tengah berkhotbah, tiba-tiba Umar berseru, "Hai pasukkanku! Bukit itu, bukit itu, bukit itu!!!" Jamaah salat jumat yang sedang mendengarkan khotbah menjadi geger. Sebab, ucapan Umar tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan isi khotbah yang disampaikan.
"Wah, Khalifah kita benar-benar sudah sakit jiwa," ujar penduduk Madinah yang mengikuti salat Jumat pada saat itu.
Tetapi, Abdurrahman bin Auf tidak mau bertindak gegabah. Ia ingin tahu betul apa yang menyebabkan Umar berbuat demikian. Akhirnya, Abdurrahman mendatangi Khalifah Umar. Ia bertanya, "Wahai Amirul Mukmini, mengapa engkau berteriak-teriak di sela-sela khotbah seraya menatap ke kejauhan?" Dengan sikap tenang, Khalifah Umar menjelaskan, "Begini, sahabatkku. Beberapa waktu yang lalu, aku mengirimkan sepasukan tentara yang tidak kupimpin langsung untuk menumpas para pengacau. Ketika aku sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula, satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit yang berada di belakang mereka. Karena itu, aku berseru, "Bukit itu, bukit itu, bukit itu!"
Abdurrahman mengernyitkan dahi, setengah tidak percaya. "Lalu, mengapa engkau dulu sering menangis dan tertawa sendiri sesuai melaksanakan salat fardu?" tanya Abdurrahman ingin tahu lebih jauh. Umar menjawab, "Aku menangis karena teringat kebiadabanku sebelum masuk islam. Aku pernah mengubur anak perempuanku hidup-hidup. Tetapi aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubuat patung dari tepung gandum, lalu kusembah seperti tuhan. Tetapi, bila aku lapar, 'tuhan'ku itu pun kumakan."
Setelah mendengar penjelasan langsung dari Khalifah Umar, Abdurrahman bin Auf kemudian mohon izin. Ia belum dapat menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justru lebih membuktikan ketidakwarasannya, sehingga jawabannya menjadi kacau dan tidak lazim.
Akhirnya, bukti pun datang tanpa diminta. Pasukan yang dikirim Khalifah Umar untuk menumpas para pengacau beberapa waktu yang lalu kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar, meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yang mereka derita. Mereka tiba dengan membawa kemenangan.
Pada hari berikutnya, pemimpin pasukan itu bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dahsyatnya peperangan yang mereka alami. "Kami dikepung oleh tentara musuh. Rasanya, saat itu tidak ada lagi harapan untuk dapat meloloskan diri. Pasukan musuh menyerang kami secara beringas dari berbagai penjuru. Kami sudah terpecah belah. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Hingga tibalah saat yang seharusnya kami mengerjakan salat Jumat. Persis kala itu, kami mendengar seruan gaib yang keras dan tegas, "Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Tiga kali seruan tersebut diulang-diulang, sehingga kami tahu maksudnya. Kami pun segera mundur ke lereng bukit. Kami jadikan bukit itu sebagai pelindung kami dari bagian belakang. Dengan demikian, kami dapat menghadapi serangan tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kemenangan kami."
Abdurrahman bin Auf yang ikut mendengarkan kisah itu mulai mengerti apa yang terjadi pada diri Umar. Begitu pula dengan masyarakat, yang tadinya menuduh Umar telah mengalami gangguan jiwa. Mereka semua merasa takjub akan kebesaran Allah yang dianugrahkan kepada Khalifah Umar. Abdurrahman bin Auf kemudian berkata, "Biarkanlah Khalifah Umar dengan perilakunya sendiri, meskipun terkadang tampak tidak lazim bagi kita. Sebab, ia dapat melihat sesuatu yang indra kita tidak dapat melihatnya."
Jawaban Ibnu Abbas terhadap Pertanyaan Kaisar Romawi
Diriwayatkan bahwa Kaisar Romawi menulis sepucuk surat kepada Mu'awiyah bin Abu Sufyan, yang diantarkan oleh seorang utusan. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut : "Beritahukan kepadaku apakah yang tidak memiliki kiblat ? siapakah yang tidak memiliki ayah ? siapakah yang tidak memiliki ayah dan ibu ? siapakah yang senantiasa dibawa oleh kuburannya ? sebutkan tiga makhluk yang tidak diciptakan di dalam rahim! Terangkan tentang 'sesuatu', setengah darinya, dan yang tidak terkatakan! Kirimkan pula kepadaku dalam sebuah botol sumber dari segala sesuatu."
Mu'awiya kemudian mengirimkan surat dan sebuah botol kepada Ibnu Abbas, seorang pakar fikih, untuk menjawab surat tersebut.
Ibnu Abbas memberikan jawaban sebagai berikut: "Yang tidak memiliki kiblat adalah Ka'bah. Yang tidak memiliki ayah adalah Nabi Isa a.s. Yang tidak memiliki ayah dan ibu adalah Nabi Adam a.s.. Orang yang senantiasa dibawa oleh kuburannya adalah Nabu Yunus a.s. yang ditelan oleh ikan Hiu. Tiga Makhluk yang tidak diciptakan di dalam rahim adalah Domba Nabi Ibrahim a.s., Unta Betina Nabi Saleh a.s., dan Ular Nabi Isa a.s. Adapun 'sesuatu' itu adalah orang berakal yang menggunakan akalnya. Setengah dari sesuatu itu adalah orang yang tidak berakal, tetapi masih mau mengikuti pendapat orang yang berakal. Adapun yang tidak terkatakan adalah orang yang tidak berakal dan tidak mau mengikuti pendapat orang-orang yang berakal."
Kemudian Ibnu Abbas mengisi botol dengan air hingga penuh lalu ia berkata, "Air adalah sumber dari segala sesuatu." Jawab surat Mu'awiyah dikirimkan kepada Kaisar Romawi, yang menanggapinya dengan penuh kekaguman.
